Selayar

25 Korban KLM Nurul Salsa Masih Hilang, Pencarian Didorong Menjangkau Pangkep hingga NTT

Tim Redaksi
×

25 Korban KLM Nurul Salsa Masih Hilang, Pencarian Didorong Menjangkau Pangkep hingga NTT

Sebarkan artikel ini
Ketua DPD PGR Selayar Fadly Syarif

SELAYAR – Pencarian korban hilang dalam tragedi karamnya Kapal Layar Motor (KLM) Nurul Salsa di perairan barat Desa Polassi, Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, kembali mendapat sorotan.

Memasuki hari ke-26 setelah insiden tersebut, Ketua DPD Partai Gerakan Rakyat Kabupaten Kepulauan Selayar, Fadly Syarif, S.I.Kom., meminta operasi pencarian tidak hanya berfokus di sekitar lokasi awal kejadian.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ia mendorong pemerintah daerah di sejumlah wilayah yang berpotensi menjadi jalur hanyutnya korban, termasuk Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Kota Bima, serta wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ikut mengambil bagian dalam upaya pencarian.

Fadly mengatakan, perluasan wilayah pencarian penting dilakukan dengan mempertimbangkan kemungkinan korban terbawa arus laut hingga keluar dari perairan Kepulauan Selayar.

“Harapannya, pemerintah daerah di wilayah yang berpotensi menjadi lintasan hanyutnya korban dapat ikut membantu mengoptimalkan pencarian,” ujarnya.

Menurut dia, koordinasi lintas daerah perlu diperkuat dengan melibatkan berbagai unsur yang memiliki kewenangan maupun kemampuan dalam operasi pencarian dan penyelamatan.

Koordinasi tersebut, kata Fadly, dapat melibatkan Basarnas, TNI Angkatan Laut, Satpolairud, KSOP, KPLP, hingga BPBD di wilayah masing-masing.

Selain unsur pemerintah dan aparat, Fadly juga mengajak kapal-kapal yang berlayar di wilayah Pangkep, Bima, dan NTT untuk turut menjadi bagian dari upaya pencarian.

Para nakhoda dan awak kapal diimbau meningkatkan kewaspadaan selama pelayaran. Jika menemukan benda, tubuh manusia, atau tanda lain yang diduga berkaitan dengan para korban, temuan tersebut diharapkan segera dilaporkan kepada petugas.

Fadly secara khusus menyebut sejumlah kapal yang melintasi kawasan tersebut, yakni KM Sabuk Nusantara 52, KM Maloli, KM Sabuk Nusantara 27, dan KM Sabuk Nusantara 85.

Ia berharap awak kapal tersebut dapat melakukan pemantauan sepanjang lintasan pelayaran dan segera mengambil langkah evakuasi apabila menemukan korban hanyut di laut.

“Pemantauan dari kapal-kapal yang melintas juga sangat penting karena wilayah pencarian bisa saja sudah berada jauh dari titik awal kejadian,” katanya.

Fadly juga meminta Pos SAR Selayar bersama instansi terkait membangun komunikasi yang lebih intensif dengan operator kapal yang beroperasi pada lintasan tersebut.

Menurutnya, jaringan komunikasi antara tim SAR dan operator kapal perlu diperkuat agar setiap informasi mengenai kemungkinan penemuan korban dapat segera diteruskan dan ditindaklanjuti.

Selain memperluas pemantauan, ia mengusulkan agar kapal-kapal yang dilibatkan dalam pemantauan dilengkapi perlengkapan pendukung evakuasi.

Salah satunya berupa penyediaan kantong jenazah di atas kapal sebagai langkah antisipasi apabila awak kapal menemukan korban yang telah meninggal dunia.

Dengan demikian, kata Fadly, proses evakuasi dapat dilakukan secara cepat, layak, dan tetap mengikuti prosedur yang berlaku.

Hingga hari ke-26 pascakejadian, sebanyak 25 korban KLM Nurul Salsa masih dinyatakan hilang. Kondisi tersebut membuat perluasan jejaring pencarian dinilai menjadi salah satu langkah yang penting untuk meningkatkan peluang ditemukannya para korban. (*)