MAKASSAR – Insiden kekerasan yang melibatkan petugas keamanan di Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali mencuat setelah seorang dosen Fakultas Kedokteran, Dr. Hisbullah, mengungkapkan perlakuan kasar dan arogan yang diterimanya dari satpam kampus pada Senin (5/2/2025) malam.
Peristiwa tersebut terjadi ketika sopir Dr. Hisbullah diminta untuk menunggu sebentar di depan Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Sopir tersebut diminta untuk memarkir mobil di area yang sepi, namun beberapa menit kemudian sopirnya menerima perlakuan tidak menyenangkan dari seorang satpam Unhas yang berujung pada pemukulan.
“Sopir saya menghubungi saya dan melaporkan bahwa dia diusir oleh satpam. Lima menit setelah itu, dia menelepon lagi dan mengatakan dipukul,” ujar Dr. Hisbullah melalui akun Facebook miliknya.
Ia pun segera menuju lokasi bersama seorang dokter rekanan untuk meredakan ketegangan.
Sesampainya di tempat kejadian, Dr. Hisbullah mencoba menenangkan satpam yang terlihat sangat emosional dan terus berteriak.
Satpam tersebut menuduh sopir Dr. Hisbullah telah parkir di tempat yang salah meskipun sopir hanya sedang menunggu.
“Saya mencoba menjelaskan dengan tenang, namun dia tetap tidak peduli dan malah semakin arogan, menantang saya untuk melaporkannya ke polisi,” kata Dr. Hisbullah.
Di tengah ketegangan, Dr. Hisbullah mengetahui bahwa mobilnya rusak akibat perkelahian antara sopirnya dan petugas tersebut.
Sopirnya mengaku bahwa dirinya dipukul beberapa kali, dengan pukulan pertama yang meleset dan kemudian mengenai telinga serta kerah bajunya. Kerusakan pada talang mobil pun terjadi saat perkelahian di tempat yang sempit dan gelap.
Sikap arogan petugas keamanan Unhas tidak hanya terlihat dalam kejadian ini, tetapi juga dalam pengalaman serupa yang dialami oleh dosen dan staf kampus lainnya.
Dr. Hisbullah mengungkapkan bahwa banyak rekan dosennya yang sering mendapat perlakuan kasar dari petugas satpam yang merasa dilindungi dan tidak takut menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka.
“Mereka terbiasa berteriak dan membentak, seolah-olah itu sudah menjadi kebiasaan. Mereka merasa tidak akan mendapat hukuman apa pun, bahkan jika ada yang melapor,” ungkapnya.
Menurut informasi dari beberapa kolega, satpam-satpam Unhas sering bertindak kasar tanpa ada penindakan serius dari pihak kampus.
Banyak dosen yang merasa kesal dengan sikap petugas keamanan yang tidak profesional, namun khawatir untuk melaporkan karena merasa proses hukum tidak akan memberikan dampak yang berarti.
Setelah memikirkan dampak hukum, Dr. Hisbullah memilih untuk mencabut laporan ke polisi setelah berdiskusi dengan pihak keluarga dan teman-teman.
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa perilaku arogan yang ditunjukkan oleh satpam Unhas harus segera dihentikan.
“Kami tidak ingin memperburuk situasi, tetapi ini adalah pelajaran penting. Kampus harus lebih mengedepankan sikap manusiawi dan tidak mengandalkan kekerasan,” ujarnya.
Insiden ini memunculkan pertanyaan lebih besar tentang profesionalisme petugas keamanan di Unhas.
Apakah tindakan arogan dan kekerasan yang terjadi di kampus ini hanya disebabkan oleh ketidakprofesionalan satpam, atau ada budaya yang dilindungi di balik perilaku tersebut?
Dr. Hisbullah berharap kejadian ini menjadi titik balik bagi Unhas untuk meninjau ulang kebijakan dan sikap petugas keamanannya demi menciptakan kampus yang lebih aman dan penuh rasa saling menghormati. (*)


























