Berita

Laba PT Vale Diproyeksi Melonjak 200% pada 2026, Target Harga Naik ke Rp 8.000

Tim Redaksi
×

Laba PT Vale Diproyeksi Melonjak 200% pada 2026, Target Harga Naik ke Rp 8.000

Sebarkan artikel ini

RKAB 22 Juta WMT Disetujui, Saham INCO Berpotensi Menguat 8,8%

Presdir dan CEO PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Bernardus Irmanto (kedua kanan). (Dok Vale)
Presdir dan CEO PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Bernardus Irmanto (kedua kanan). (Foto: Dok Vale)

JAKARTA – Prospek kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) pada 2026 diperkirakan menguat signifikan.

Emiten nikel tersebut diproyeksikan membukukan laba bersih sebesar US$ 259 juta, melonjak tajam dibandingkan estimasi tahun sebelumnya yang berada di kisaran US$ 86 juta.

Lonjakan proyeksi laba ini terutama ditopang oleh monetisasi bijih nikel (ore) serta mulai diperhitungkannya kontribusi hilirisasi melalui proyek High Pressure Acid Leach (HPAL).

Merespons prospek tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target harga saham INCO dari Rp 7.500 menjadi Rp 8.000 per saham, dengan rekomendasi tetap beli.

Dengan harga penutupan terakhir di level Rp 7.350, saham INCO dinilai masih memiliki potensi kenaikan sekitar 8,8%.

RKAB 2026 dan Monetisasi Ore Jadi Katalis

Dilansir InvestorTrust, analis BRI Danareksa Sekuritas, Naura Reyhan Muclis dan Andhika Audrey, mencatat bahwa INCO telah memperoleh persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 pada 15 Januari 2026 dengan total kuota sekitar 22 juta wet metric ton (wmt).

Kuota tersebut terdiri atas sekitar 14 juta wmt untuk kebutuhan internal Sorowako dan sekitar 8 juta wmt untuk monetisasi ore, yang terbagi menjadi 6,4 juta wmt saprolite dan 1,6 juta wmt limonite.

Perseroan juga berpeluang memperoleh tambahan kuota pada periode April–Juni 2026 guna mengakomodasi kebutuhan joint venture (JV)/HPAL pada semester II-2026.

Adapun panduan produksi nikel matte tetap berada di kisaran 63–70 ribu ton per tahun (ktpa). Sementara target penjualan ore 2026 dipatok 10–12 juta wmt dengan premi harga lebih tinggi.

BRI Danareksa merevisi naik estimasi laba bersih 2026 sebesar 4% menjadi US$ 259 juta, sejalan dengan asumsi kenaikan harga nikel global.

Proyeksi tersebut didukung estimasi biaya tunai US$ 17–25 per ton dan asumsi harga jual rata-rata (ASP) US$ 60 per ton.

Kontribusi Awal Pomalaa HPAL

Selain monetisasi ore, katalis lain berasal dari proyek Pomalaa HPAL yang mulai diperhitungkan kontribusinya pada kuartal IV-2026. Penyelesaian proyek tersebut diperkirakan lebih cepat, yakni kuartal III-2026.

Dengan asumsi margin mixed hydroxide precipitate (MHP) sekitar US$ 2.200 per ton—berdasarkan ASP US$ 14.700 per ton dibanding harga transfer sekitar US$ 12.500 per ton—serta tingkat utilisasi awal 10% pada 2026, kontribusi terhadap laba kotor diperkirakan mencapai sekitar US$ 7 juta.

Revisi target harga menjadi Rp 8.000 juga mempertimbangkan proyeksi price to earnings (P/E) 2027 sebesar 15 kali. Angka ini masih berada di bawah rata-rata historis lima tahun INCO yang mencapai 24 kali.

Dengan kombinasi peningkatan volume penjualan ore, dukungan harga nikel, serta kontribusi awal hilirisasi, saham INCO dinilai masih memiliki ruang apresiasi dalam jangka menengah.

Investor kini mencermati realisasi tambahan kuota RKAB serta progres proyek HPAL sebagai faktor penentu keberlanjutan momentum kinerja perseroan pada 2026. (*)