Berita

Laba PT Vale Naik 32% di 2025, Recovery Diproyeksi Terjadi di Semester II-2026

Tim Redaksi
×

Laba PT Vale Naik 32% di 2025, Recovery Diproyeksi Terjadi di Semester II-2026

Sebarkan artikel ini

Outlook Saham INCO 2026 Masih Kuat, Analis Pasang Target Harga Hingga Rp9.300

PT Vale Indonesia Tbk

JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat kinerja positif sepanjang 2025 dan diproyeksikan masih memiliki prospek pertumbuhan pada 2026 seiring potensi peningkatan produksi nikel.

Analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra, mencatat laba bersih INCO pada 2025 mencapai US$ 76 juta atau naik 32% secara tahunan (year on year/yoy), meskipun sedikit di bawah proyeksi UBS sebesar US$ 78 juta.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Menurut Igor, laba yang sedikit di bawah perkiraan tersebut disebabkan oleh percepatan pembangunan ulang tungku listrik (electric furnace) tiga serta biaya restorasi lingkungan pada kuartal IV-2025.

Di sisi lain, pendapatan INCO justru melampaui perkiraan karena penjualan bijih saprolit dan nikel matte lebih tinggi, yang mampu mengimbangi penurunan harga jual rata-rata saprolit.

Produksi nikel matte INCO pada 2025 tercatat sebesar 72.027 metrik ton, meningkat dibandingkan 71.311 metrik ton pada 2024.

Namun secara kuartalan, produksi pada kuartal IV-2025 turun 12% menjadi 17.052 metrik ton dari kuartal III-2025 sebesar 19.391 metrik ton akibat pembangunan kembali tungku tiga yang dimulai November 2025 dan dijadwalkan selesai Mei 2026.

Igor memperkirakan produksi nikel matte akan pulih kuat pada semester II-2026 setelah pembangunan tungku tersebut selesai.

Sementara itu, Analis Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, menilai kinerja INCO pada kuartal II-2026 masih berada dalam fase transisi karena keterbatasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang baru terealisasi sekitar 30% dari target awal.

Menurutnya, upside kinerja baru akan terlihat jika ada tambahan kuota produksi pada pertengahan tahun, sementara harga nikel yang relatif stabil di kisaran US$ 16.000 per ton serta adanya premium ore di pasar domestik menjadi penopang margin jangka pendek.

Namun demikian, ia mengingatkan terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, mulai dari keterbatasan RKAB, rencana pajak ekspor nikel, kenaikan biaya energi, hingga potensi kelangkaan sulfur yang dapat mempengaruhi proyek berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL).

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, juga menyoroti volatilitas harga nikel global akibat perlambatan permintaan dari China serta potensi oversupply dari Indonesia.

Selain itu, risiko keterlambatan proyek Pomalaa HPAL juga perlu dicermati karena kontribusi awalnya baru diperkirakan masuk pada kuartal IV-2026.

Sementara Analis JP Morgan Sekuritas Indonesia, Benny Kurniawan, menilai posisi INCO cukup kuat karena memiliki cadangan bijih nikel berkualitas tinggi yang besar, sehingga memberikan peluang pengembangan hilirisasi di masa depan, termasuk di Blok Tanamalia.

Secara proyeksi, UBS memperkirakan pendapatan dan laba bersih INCO pada 2026 masing-masing sebesar US$ 1,30 miliar dan US$ 184 juta. Sementara Indo Premier memperkirakan laba bersih dapat mencapai sekitar US$ 247 juta atau naik signifikan dibandingkan 2025.

Sejumlah analis pun masih merekomendasikan beli saham INCO. UBS dan BRI Danareksa memberikan rekomendasi buy dengan target harga masing-masing Rp9.000 dan Rp8.000 per saham.

Indo Premier merekomendasikan buy on weakness dengan target harga Rp6.500 per saham, sementara JP Morgan memberikan rekomendasi overweight dengan target harga Rp9.300 per saham.

Dengan berbagai katalis dan risiko tersebut, kinerja INCO pada 2026 diperkirakan akan sangat ditentukan oleh peningkatan produksi, tambahan kuota RKAB, serta perkembangan proyek hilirisasi nikel perseroan. (*)