TURIN – Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Business Development Services Indonesia (DPN ABDSI), Bahrul Ulum Ilham, mengikuti Management Course for Enterprise Support Organizations and BDS Providers di International Training Centre of the International Labour Organization (ITCILO), Turin, Italia, pada 20–30 Oktober 2026.
Keikutsertaan tersebut menjadi kesempatan bagi Bahrul untuk memperdalam pemahaman mengenai pengelolaan organisasi pendukung usaha, profesionalisme layanan Business Development Services (BDS), serta penguatan kapasitas pendamping usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Bahrul yang juga merupakan trainer Start and Improve Your Business (SIYB) ILO, konsultan PLUT KUMKM, dan dosen Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia, menilai pembelajaran di lingkungan internasional itu penting untuk memperluas perspektif dalam mengembangkan layanan pendampingan usaha di Indonesia.
Menurutnya, pengalaman berinteraksi dengan peserta dari beragam latar belakang profesional membuka ruang pertukaran pengetahuan dan praktik mengenai pengembangan layanan pendampingan usaha yang lebih efektif dan berkelanjutan.
“Pengalaman belajar di Turin memperkuat pandangan saya bahwa pendampingan UMKM tidak boleh berhenti pada pelaksanaan pelatihan atau pemenuhan target kegiatan. Layanan BDS harus mampu menjawab kebutuhan nyata pelaku usaha dan memberikan kontribusi terukur terhadap perkembangan bisnis mereka,” ungkap Bahrul.
Pendampingan Harus Berorientasi pada Kebutuhan Usaha
Salah satu prinsip yang menjadi perhatian Bahrul dalam pembelajaran tersebut adalah client centricity, yakni menempatkan kebutuhan dan kepentingan pelaku usaha sebagai pusat perancangan serta penyelenggaraan layanan.
Prinsip ini menuntut organisasi pendukung usaha untuk memiliki strategi yang jelas, tata kelola profesional, sumber daya manusia yang kompeten, serta mekanisme evaluasi yang berorientasi pada hasil dan dampak.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan pendampingan tidak cukup diukur dari jumlah pelatihan yang dilaksanakan atau peserta yang terlibat. Layanan BDS juga perlu menunjukkan kontribusi nyata terhadap perkembangan usaha, mulai dari perbaikan manajemen hingga peningkatan daya saing.
Bahrul memandang pendekatan tersebut relevan dengan kebutuhan pengembangan ekosistem pendampingan UMKM di Indonesia, yang memiliki karakteristik wilayah, sektor usaha, dan tingkat perkembangan bisnis yang beragam.
Karena itu, model layanan BDS perlu dirancang secara profesional, adaptif, dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan spesifik pelaku usaha.
Perkuat Kolaborasi Ekosistem Pendampingan UMKM
Selain kualitas layanan, penguatan ekosistem pendampingan juga membutuhkan sinergi berbagai pemangku kepentingan.
Pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga keuangan, dan komunitas pendamping memiliki peran penting dalam membangun layanan yang berkelanjutan.
Pendampingan UMKM, menurut perspektif tersebut, perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan pelaku usaha, tetapi juga pada perbaikan pengelolaan bisnis, perluasan akses pasar, pembiayaan, produktivitas, serta daya saing.
Sebagai Ketua Umum DPN ABDSI, Bahrul menilai peningkatan kapasitas pendamping perlu berjalan beriringan dengan penguatan kelembagaan, standardisasi layanan, kolaborasi lintas sektor, dan pengukuran dampak pendampingan.
Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong penyedia layanan pengembangan usaha agar semakin profesional dalam membantu koperasi dan UMKM menghadapi tantangan bisnis yang terus berkembang.
Bawa Pembelajaran Internasional ke Indonesia
Bahrul berharap pengetahuan dan perspektif yang diperoleh selama mengikuti program di Turin dapat menjadi bekal untuk memperkuat peran ABDSI dalam mengembangkan ekosistem BDS nasional.
Pembelajaran tersebut juga diharapkan mendukung peningkatan kualitas layanan pendampingan di Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi dan UMKM (PLUT KUMKM), serta memperkuat kapasitas pendamping dalam membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
Baginya, nilai utama dari program internasional bukan semata-mata memperoleh pengetahuan baru, melainkan kemampuan menerapkan pembelajaran tersebut sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik UMKM Indonesia.
“Belajar dari pengalaman internasional bukan sekadar memperoleh pengetahuan baru, tetapi bagaimana menerjemahkan pembelajaran tersebut menjadi praktik yang relevan dengan kebutuhan UMKM Indonesia. Ukuran keberhasilannya adalah sejauh mana layanan pendampingan mampu membantu pelaku usaha tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan,” tutupnya.
Asosiasi Business Development Services Indonesia (ABDSI) merupakan organisasi yang mendorong pengembangan dan penguatan layanan pendampingan usaha bagi koperasi dan UMKM di Indonesia.
Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas pendamping, penguatan kelembagaan, standardisasi layanan, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. (*)




















