MAKASSAR — Dalam kegiatan Penjaringan Aspirasi dan Sosialisasi Bakal Calon Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2026–2030, Prof. Budu tampil sebagai salah satu calon dengan gagasan paling komprehensif dan terukur.
Ia mengusung visi besar menjadikan Unhas sebagai “Kampus Berdampak”, yakni perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Dalam pemaparannya, Prof. Budu menegaskan bahwa konsep “Unhas Berdampak” berakar pada penguatan fungsi sosial universitas.
Ia menilai, kampus harus lebih aktif menjadi motor perubahan di tingkat akar rumput, bukan sekadar menara gading ilmu pengetahuan.
“Kita ingin memastikan riset dan inovasi Unhas benar-benar hadir di tengah masyarakat. Karena itu, kami akan membangun Desa Kolaboratif Berbasis Riset sebagai bentuk nyata kehadiran kampus dalam kehidupan sosial dan ekonomi warga,” ujarnya, Senin (6/10).
Melalui program tersebut, Unhas diharapkan dapat memperkuat peran akademisi sebagai agen perubahan sosial dengan melibatkan mahasiswa dan dosen dalam riset terapan di desa-desa binaan.
Selain fokus pada dampak sosial, Prof. Budu juga memperkuat arah internasionalisasi melalui gagasan “Unhas Mengglobal”.
Ia menargetkan peningkatan mutu publikasi ilmiah dengan membangun sistem Research Integrity yang solid, termasuk penerapan Risk Index dan pembentukan lembaga Unhas Journal Watch untuk memantau serta memperkuat tata kelola publikasi internasional.
“Kita perlu memastikan publikasi kita tidak hanya banyak, tetapi juga bermartabat secara ilmiah,” tegasnya.
Di bidang kewirausahaan, Prof. Budu memperkenalkan konsep “Unhas Berwirausaha”, yang berfokus pada penciptaan unit bisnis baru, hilirisasi produk riset, serta optimalisasi sumber pendapatan non-APBN.
Gagasan ini diyakini akan memperluas ruang inovasi sivitas akademika sekaligus memperkuat kemandirian keuangan universitas.
Namun, di balik semua program tersebut, Prof. Budu menekankan bahwa tujuan akhirnya tetaplah peningkatan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan (tendik).
Ia menargetkan peningkatan Insentif Kinerja Wajib (IKW) hingga 100% pada tahun pertama masa kepemimpinannya, sehingga nilainya mendekati tunjangan kinerja nasional di lingkungan Kemendiktisaintek.
“Kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan adalah prasyarat utama agar Unhas bisa berlari lebih cepat,” ujarnya menegaskan.
Dengan visi yang menyeluruh, strategi implementasi yang jelas, dan orientasi nyata pada kesejahteraan internal, Prof. Budu dipandang sebagai calon rektor yang tidak hanya siap memimpin, tetapi juga memiliki arah perubahan yang konkret untuk menjadikan Unhas sebagai kampus yang berdampak, berintegritas, berwirausaha, dan menyejahterakan. (*)


























