MAKASSAR — Kabar duka menyelimuti Kabupaten Luwu Utara. Mantan Bupati Luwu Utara periode 2010–2015, H. Arifin Junaidi, meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Selasa (7/7/2026).
Bupati kedua Luwu Utara yang akrab disapa Arjuna itu mengembuskan napas terakhir pada usia 73 tahun setelah hampir satu tahun berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Almarhum diketahui mengalami komplikasi penyakit yang disertai penumpukan cairan di paru-paru.
Kepergian Arifin Junaidi menjadi kehilangan bagi masyarakat Luwu Utara. Selain pernah memimpin daerah tersebut, ia dikenal sebagai birokrat senior yang menghabiskan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk mengabdi di pemerintahan dan pembangunan daerah.
Jenazah almarhum dipersiapkan untuk dipulangkan dari Makassar menuju Desa Pombaniki, Kecamatan Sabbang Selatan, Kabupaten Luwu Utara. Setibanya di rumah duka, jenazah akan disemayamkan sebelum dimakamkan.
Adik almarhum, Bunaya, mengatakan Arifin telah cukup lama menjalani pengobatan.
“Sudah hampir satu tahun ini sakit,” ujarnya.
Ucapan belasungkawa juga disampaikan Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim. Melalui unggahan di media sosial pribadinya, ia mengenang almarhum sebagai sosok yang telah memberikan kontribusi besar bagi daerah.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Turut berduka atas meninggalnya Bapak H. Arifin Junaidi. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala dosa-dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” tulis Andi Abdullah Rahim.
Jejak Pengabdian
Lahir di Kecamatan Sabbang pada 17 Agustus 1952, Arifin Junaidi meniti karier sebagai aparatur sipil negara dari bawah.
Pengalamannya di birokrasi mengantarkannya menduduki berbagai jabatan strategis, mulai dari Camat Malangke hingga Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Luwu Utara.
Karier birokrasi yang panjang itu kemudian membawanya memasuki panggung politik lokal. Pada 2005, ia dipercaya menjadi Wakil Bupati Luwu Utara mendampingi Luthfi Andi Mutty.
Jabatan tersebut menjadikannya wakil bupati pertama sejak Kabupaten Luwu Utara terbentuk.
Dalam masa transisi pemerintahan, Arifin juga dipercaya memimpin daerah sebagai bupati definitif sebelum akhirnya memenangkan Pilkada 2010. Ia kemudian menjabat Bupati Luwu Utara periode 2010–2015 berpasangan dengan Indah Putri Indriani sebagai wakil bupati.
Selama memimpin Luwu Utara, Arifin mendorong pembangunan di berbagai sektor. Penguatan infrastruktur, peningkatan pelayanan publik, pengembangan sektor pertanian, serta pembenahan tata kelola pemerintahan menjadi bagian dari agenda pembangunan yang dijalankan pada masa kepemimpinannya.
Pengabdiannya tidak berhenti setelah menyelesaikan masa jabatan sebagai kepala daerah. Arifin tetap aktif di dunia politik dan organisasi.
Ia pernah memimpin DPD Partai Golkar Kabupaten Luwu Utara serta tetap berkontribusi dalam berbagai agenda pembangunan dan kemasyarakatan.
Pengalaman panjangnya sebagai birokrat bahkan ia tuangkan dalam sebuah buku autobiografi berjudul “Birokrat Tahan Banting”, yang merekam perjalanan karier sekaligus pandangannya tentang kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat.
Bagi banyak kalangan, Arifin Junaidi dikenang sebagai birokrat tulen yang tumbuh dari bawah, memahami pemerintahan dari level paling dekat dengan masyarakat hingga akhirnya dipercaya memimpin daerah. Rekam jejak pengabdiannya menjadi bagian dari perjalanan sejarah pembangunan Kabupaten Luwu Utara.
Almarhum meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang abdi negara, namun dedikasi, keteladanan, dan kontribusinya bagi Bumi La Maranginang akan terus dikenang oleh masyarakat Luwu Utara. (*)


























