Pendidikan

Kisah Hidup Dosen UIM Hingga Raih Gelar Doktor, Nyaris Tidak Lanjut Kuliah Akibat Faktor Ekonomi

Tim Redaksi
×

Kisah Hidup Dosen UIM Hingga Raih Gelar Doktor, Nyaris Tidak Lanjut Kuliah Akibat Faktor Ekonomi

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR – Pencapaian pendidikan hingga meraih gelar doktor bukan hal yang mudah. Tapi juga bukan hal yang mustahil. Hal ini terpaut dalam kisah hidup seorang akademisi Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali, Erwin Nurdiansyah, S.Pd., M.Pd.

Pria asal Bulukumba ini menjabat sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan dan Sastra (FKIPS) UIM Al-Gazali. Dirinya baru selesai sidang promosi Doktor di Universitas Negeri Makassar (UNM).

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Dibalik capaiannya, ternyata Erwin merupakan sosok yang tangguh, punya tekad dan perjuangan yang patut diteladani. Setelah lulus SMA, dirinya pernah mendaftar di salah satu kampus di Bulukumba. Namun, harapannya untuk lanjut pendidikan pupus, karena faktor ekonomi yang tidak mendukung.

Dirinya kemudian ditawari untuk kerja bangunan di Malaysia dengan iming-iming banyak penghasilan diperoleh. Menyusul keluarga dari daerah yang sudah lebih dulu kerja di negara tersebut. Erwin sudah terbiasa bekerja sejak duduk di bangku SMP, setelah ibunya wafat.

Meski awalnya sudah berencana untuk bertandang ke Malaysia bekerja, tapi Erwin membatalkan rencana tersebut karena diajak ayahnya ke Makassar. Sejak urban di Makassar, dirinya kemudian mendapat dukungan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

“Jadi butuh perjuangan, butuh pengorbanan memang untuk bisa sampai tamat SMA. Pada saat itu biaya hidup dan sekolah di SMP sampai SMA kemarin bisa dikatakan itu kita dituntut untuk bisa mencari uang. Jadi harus memang tangguh,” tutur Erwin, Kamis  (22/5/2025).

Di Unismuh Makassar, Erwin mengambil jurusan Pendidikan Matematika dengan masa studinya 4 tahun selesai. Mendaftar 2007 kemudian dinyatakan sebagai sarjana 2011.

Dengan segala keterbatasan, capaian membuatnya haru karena dari awal tidak membayangkan dapat memperoleh gelar sarjana.

“Saya tidak membayangkan bahwa bisa selesai S1, karena orang tua (ibu) sudah tidak ada. Tapi syukur alhamdulillah bisa. Walaupun itu tadi sempat putus asa dan mau pergi merantau di Negeri Jiran,” ucapnya mengenang masa lalu.

Usai mendapat ijazah S1 Pendidikan Matematika, Erwin kemudian honor di salah satu SMP dan SMA di Makassar mulai tahun 2011. Pada tahun 2013, dirinya kemudian mendaftar lagi mengejar gelar magister (S2) di dengan jurusan yang sama di UNM.

Pendidikannya di tingkat magister menggunakan biaya pribadi. Hasil jerih payah selama dua tahun honor di SMP dan SMA. Kemudian sukses menyelesaikan studinya dan meraih gelar Magister Pendidikan pada 2015. Dengan ijazah tersebut, Erwin sempat menjadi tenaga pengajar di Universitas Indonesia Timur (UIT) selama satu semester.

Memasuki akhir 2015, Erwin mendapat rezeki karena lulus mengikuti penerimaan seleksi dosen di UIM Al-Gazali. Dengan ketangguhannya, Erwin kemudian diberikan amanah sebagai Ketua Program Studi PGSD  (FKIPS) UIM Al-Gazali pada tahun 2019.

“Kalau urusan-urusan seperti pernikahan, bangun rumah, kuliah itu ada-ada saja rezeki yang tidak kita duga-duga sebelumnya,” kata Erwin dengan wajah penuh meyakinkan.

Pria tiga anak ini mempunyai tekad yang tinggi untuk menyempurnakan pendidikannya. Pada tahun 2019, Erwin mendaftar program Doktor (S3) studi Ilmu Pendidikan di UNM.

“Alhamdulillah kemarin itu 2019 mengusulkan beasiswa, dan alhamdulillah mendapat Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPPDN)” imbuhnya.

Ditengah kesibukannya sebagai Kaprodi PGSD (FKIPS) UIM Al-Gazali, Erwin mengakui waktunya cukup padat. Belum lagi harus melaksanakan kewajibannya sebagai seorang akademisi.

Dengan masa studi yang cukup lama. Namun, kesibukannya itu tidak membuatnya lengah. Apalagi dukungan dari pimpinan kampus tempatnya bekerja terus memberikan dorongan. Alhasil, Erwin mampu menyelesaikan studinya dan meraih gelar doktor selama 5 tahun 5 bulan.

“Saya menempuh studi sekitar 5 tahun 5 bulan. Ya agak lama karena kemarin perhatian fokus terpecah. Karena kebetulan ada beberapa kegiatan di kampus sambil mengurus juga di pasca. Jadi itu mungkin yang membagi perhatian sehingga lama selesai. Bahkan terancam di DO tahun depan,” ungkapnya penuh haru.

Menariknya, disertasi Erwin menuai perhatian hingga pimpinan kampus UIM menyebutnya sebagai Doktor Matematika Aswaja pertama di Indonesia. Disertasi tersebut berjudul “Pengembangan Model Project Based Learning (PjBL) dengan Karakter Aswaja pada Mata Kuliah Matematika Program Studi Pendidikan Guru Dasar”.

Adapun motivasi Erwin untuk konsentrasi pada judul tersebut, karena dirinya mencermati fenomena kampus di Indonesia dan khususnya di Sulsel lebih fokus ke Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Tapi masih dalam konteks umum, belum di implementasi dalam pembelajaran.

“Kita di UIM ini sudah terealisasi Aswaja, cuman belum internalisasi dalam tahapan pembelajaran. Itu yang menjadi salah satu yang latarbelakangnya. Apalagi di kampus UIM sudah memiliki buku panduan Aswaja, sebab itu saya sebagai dosen ingin menginternalisasikan panduan yang sudah dibuat untuk diimplementasikan dalam tahapan perkuliahan,” papar Erwin.

“Sudah dilaksanakan oleh dosen-dosen cuman belum ada yang terdokumentasi bahwa panduan ini harus terimplementasi dalam pembelajaran. Masih dalam bentuk kegiatan seperti berdoa, salam dan shalawat. Itu sudah baik tapi kita harap lebih dari itu dalam implementasi pembelajaran,” pungkasnya.

Perjalanan hidup Erwin telah melalui medan terjal dan penuh rintangan. Tapi tekadnya dan tidak mengenal putus asa mengantarkan pria asal Bulukumba itu meraih gelar doktor.

Diketahui, Erwin Nurdiansyah, lahir di Bulukumba pada tanggal 19 November 1988  sebagai anak ketiga  dari pasangan Abdul Rahman, S.Pd dan Sitti Subaedah (Almahrumah). Ia telah menikah dengan Sri Rahmawati, S.Pd., M.Pd dan telah dikaruniai 3 anak: Kesya Al Hafizah, Fatih Abdillah, dan Fikri Alfarizki. (**)