Berita

Dari PT Inco ke PT Vale Indonesia: Perjalanan 56 Tahun Mengolah Nikel Nusantara

Tim Redaksi
×

Dari PT Inco ke PT Vale Indonesia: Perjalanan 56 Tahun Mengolah Nikel Nusantara

Sebarkan artikel ini
PT Vale Indonesia Sorowako
Kantor PT Vale Indonesia Plantsite Sorowako (Foto: IST)

JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk (INCO) semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain utama industri nikel nasional setelah selesainya proses divestasi saham yang membuat MIND ID menjadi pemegang saham terbesar perusahaan tambang tersebut.

Vale, yang sebelumnya dikenal sebagai PT International Nickel Indonesia (PT Inco), hingga kini tetap menjadi salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Perusahaan ini berdiri pada 1968 setelah Pemerintah Indonesia menandatangani Kontrak Karya (KK) Generasi Pertama dengan International Nickel Company of Canada (INCO Limited)—salah satu raksasa tambang nikel dunia pada masa itu.

Meski telah berganti nama dan kepemilikan saham, kode emiten perusahaan di Bursa Efek Indonesia masih tetap INCO, merujuk pada nama lamanya.

IUPK Berlaku hingga 2035

Kontrak karya Vale telah beberapa kali diamandemen dan diperpanjang. Pada 13 Mei 2024, pemerintah resmi mengonversi KK Vale menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang berlaku hingga 28 Desember 2035.

Dengan perpanjangan ini, Vale mendapatkan kepastian hukum untuk terus mengembangkan operasi tambangnya di Indonesia.

Saat ini, PT Vale Indonesia mengelola konsesi tambang seluas 118.017 hektar, mencakup Sulawesi Selatan 70.566 ha, Sulawesi Tengah 22.699 ha, dan  Sulawesi Tenggara 24.752 ha.

Kawasan operasi terbesar berada di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang menjadi pusat aktivitas penambangan dan pengolahan nikel perusahaan.

Smelter Sorowako, Jantung Produksi Nikel Indonesia

Smelter Sorowako mulai beroperasi pada 1978, yang menjadi titik awal produksi nickel matte, produk antara nikel dengan kandungan sekitar 78 persen.

Produk ini diekspor ke pasar internasional, terutama ke Jepang, untuk diolah lebih lanjut oleh industri berbasis nikel lanjutan.

Untuk menyuplai kebutuhan energi operasional, Vale mengelola tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA), yaitu PLTA Larona, PLTA Balambano, dan PLTA Karebbe.

Ketiga PLTA ini menjadi sumber energi utama bagi fasilitas pengolahan nikel di Sorowako dan menjadi ciri khas Vale sebagai perusahaan tambang yang mengandalkan energi terbarukan.

Perubahan Nama dan Kendali Perusahaan

Nama perusahaan resmi berubah menjadi PT Vale Indonesia Tbk pada 2011 setelah perusahaan induknya, Vale SA dari Brasil, melakukan rebranding global.

Vale SA, yang berbasis di Rio de Janeiro dan beroperasi di lebih dari 30 negara, mengendalikan perusahaan Indonesia melalui anak usaha Vale Canada Limited (VCL).

Namun aturan divestasi dalam Undang-Undang Minerba mengharuskan perusahaan tambang asing mengalihkan sebagian kepemilikan sahamnya kepada pihak nasional. Karena itu, kepemilikan VCL berangsur menyusut, dimana MIND ID mengambil alih 34 persen saham Vale.

Setelah proses divestasi selesai pada 2024, struktur pemegang saham PT Vale Indonesia Tbk kini adalah MIND ID (Holding BUMN Pertambangan) 34%, Vale Canada Limited (VCL) 33,88%,  Sumitomo Metal Mining Co. Ltd (SMM) 11,48% dan Publik 20,64%.

Langkah penting terjadi pada Juli 2024 ketika MIND ID mengakuisisi 14 persen saham tambahan dengan nilai transaksi 300 juta dolar AS atau sekitar Rp 4,69 triliun. Saham tersebut dibeli dari VCL (10,4 persen) dan SMM (3,6 persen).

Akuisisi ini membuat MIND ID menjadi pemegang saham terbesar meski belum mencapai mayoritas absolut. Namun perubahan ini menegaskan komitmen pemerintah memperkuat kendali negara dalam industri nikel strategis.

PT Vale Indonesia memproduksi nickel matte, komoditas penting dalam rantai pasok industri berbasis nikel, termasuk baterai kendaraan listrik (EV), stainless steel, dan berbagai produk industri berat.

Produk ini diekspor terutama ke Jepang, serta negara lain yang memiliki fasilitas pemurnian dan manufaktur tingkat lanjut.

Dengan dukungan konsesi tambang luas, PLTA mandiri, serta integrasi global melalui Vale SA dan Sumitomo Metal Mining, Vale Indonesia dipandang sebagai salah satu perusahaan tambang dengan standar keberlanjutan tertinggi di Tanah Air. (*)