PAREPARE — Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kota Parepare menyatakan penolakannya terhadap penunjukan Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan RI sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI), sebagai pembawa orasi kebangsaan dalam agenda Silaturahmi Regional (Silatreg) KAHMI se-Sulawesi yang akan digelar di Makassar, 10–11 Oktober 2025 mendatang.
Dalam pernyataan sikap yang disampaikan melalui kanal YouTube MizanNews, Kamis (9/10), sejumlah tokoh MD KAHMI Parepare menilai Raja Juli tidak memiliki kapasitas dan rekam jejak yang cukup untuk tampil di forum bergengsi tersebut.
Mereka juga mempertanyakan urgensi serta latar belakang politik di balik kehadiran Sekjen PSI itu.
“Kami menilai Raja Juli tidak layak menjadi orator dalam panggung KAHMI, apalagi dalam bentuk orasi kebangsaan. Dari sisi kapasitas dan kontribusi terhadap persoalan kebangsaan, beliau jauh dari harapan,” ujar salah satu perwakilan KAHMI Parepare dalam pernyataan tersebut.
Para alumni HMI itu menganggap penunjukan Raja Juli justru menimbulkan spekulasi politik, bahwa kegiatan silaturahmi dan konsolidasi KAHMI Sulawesi tersebut bisa menjadi bagian dari agenda politik terselubung kelompok Jokowi.
“Kami menduga acara ini merupakan upaya infiltrasi politik ke tubuh KAHMI, dengan memanfaatkan forum resmi seperti Rakor dan dialog kebangsaan,” lanjutnya.
Selain Raja Juli Antoni, mereka juga menyoroti kehadiran Maman Abdurrahman, Menteri Koperasi dan UKM, yang dijadwalkan sebagai salah satu pembicara. Keduanya dianggap sebagai figur yang dekat dengan kekuasaan dan “pembela setia Jokowi”.
MD KAHMI Parepare menegaskan, forum KAHMI seharusnya menjadi wadah intelektual dan moral yang independen, bukan arena untuk kepentingan politik praktis.
Mereka menilai, KAHMI Nasional cenderung kehilangan peran kritisnya terhadap kebijakan pemerintah.
“Dalam AD/ART KAHMI, salah satu misinya adalah mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak sejalan dengan nilai-nilai perjuangan HMI dan KAHMI. Tapi sekarang, kita justru melihat arah yang sebaliknya,” tutur seorang anggota lain.
Sebagai alternatif, mereka menyarankan agar panitia menghadirkan tokoh-tokoh nasional dari kalangan KAHMI yang memiliki kredibilitas tinggi, seperti Mahfud MD, Anies Baswedan, Tamsil Linrung, atau MS Kaban, yang dinilai lebih pantas menyampaikan orasi kebangsaan.
Para alumni juga mempertanyakan status kehadiran Raja Juli dalam acara tersebut.
“Kami ingin tahu, sebenarnya Raja Juli hadir sebagai apa? Apakah sebagai menteri, Sekjen PSI, atau sebagai kader KAHMI? Ini penting untuk memastikan integritas forum,” tegas mereka.
Di penghujung pernyataan, para tokoh KAHMI Parepare menutup sikapnya dengan semangat tinggi dan pekik “Merdeka!”, menandai tekad mereka untuk menjaga marwah dan independensi KAHMI dari kepentingan politik manapun. (*)























