LUWU TIMUR — Komitmen PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) dalam mengintegrasikan praktik pertambangan berkelanjutan kembali mendapat pengakuan internasional.
Perusahaan yang tergabung dalam MIND ID itu meraih Gold Award kategori Biodiversity Conservation pada ajang Asia ESG Positive Impact Awards 2025 (PIA 2025) yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia.
Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilan program “Kehati Lutim Bersinergi”, sebuah inisiatif konservasi keanekaragaman hayati berbasis sains dan kolaborasi multipihak yang dijalankan di kawasan tambang PT Vale di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
“Penghargaan ini bukan sekadar hadiah, tapi panggilan untuk bertindak. Dunia membutuhkan pertambangan yang bertanggung jawab dan alam yang terjaga,” ujar Budiawansyah, Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, dalam keterangan resminya.
Model Nasional Konservasi Berbasis Kolaborasi
Program Kehati Lutim Bersinergi dirancang untuk memulihkan ekosistem pascatambang sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan nature-based solutions. Program ini melibatkan pemerintah daerah, akademisi, koperasi petani, dan masyarakat lokal.
Fokus utama program meliputi reforestasi lahan pascatambang dengan spesies endemik Sulawesi seperti dengen (Dillenia serrata), kayu hitam (Diospyros celebica), dan tembeuwa (Kjelbergiodendron celebicum); konservasi satwa endemik termasuk Rusa timorensis dan kupu-kupu Cethosia myrina; rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 10.000 hektare di 13 kecamatan; serta pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan penyerapan tenaga kerja lokal.
Program ini dimulai sejak 2017 melalui riset dasar, kemudian berlanjut ke tahap implementasi dan pemantauan berkelanjutan hingga saat ini.
Inovasi Konservasi dan Dampak Nyata
Dua inovasi utama menjadi keunggulan program ini.
Pertama, metode rootballed dalam rehabilitasi cepat, yaitu menanam bibit bersama tanah aslinya untuk menjaga mikroorganisme alami dan mempercepat pertumbuhan vegetasi.
Kedua, KOKKUBI (Konservasi Kupu-Kupu Binaan), yaitu rekayasa ekologis yang menciptakan habitat alami kupu-kupu dengan kombinasi tanaman inang dan nektar.
Hingga kini, PT Vale telah menanam lebih dari 4 juta pohon, merehabilitasi 10.000 hektare lahan kritis, dan meningkatkan indeks keanekaragaman hayati (Shannon-Wiener Index) flora hingga 3.0 dan fauna hingga 2.85 — indikator ekosistem yang sehat dan stabil.
Selain itu, program penangkaran Rusa timor bekerja sama dengan BKSDA Sulsel telah membiakkan 55 individu, sebagian di antaranya dilepasliarkan ke habitat alam.
Sinergi dan Kepemimpinan Berkelanjutan
Keberhasilan program tidak lepas dari dukungan lintas sektor. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan Dinas Kehutanan Sulsel berperan dalam regulasi dan supervisi, sementara Universitas Hasanuddin menjadi mitra riset ilmiah dan pemantauan lapangan.
Koperasi KSU Mitra Masyarakat Alam (MMA) berperan sebagai pelaksana utama reforestasi dan persemaian, melibatkan lebih dari 300 warga lokal yang kini menjadi bagian dari jaringan konservasi masyarakat.
“Keberlanjutan tidak bisa dilakukan sendirian. Sinergi antara sains, kebijakan, dan masyarakat adalah kunci menjaga bumi tanpa mengorbankan pembangunan,” tambah Budiawansyah.
Sebelum meraih Gold Award di PIA 2025, program Kehati Lutim Bersinergi juga menyabet Lestari Awards 2025 dari KG Media di tingkat nasional. Dua penghargaan bergengsi itu menjadi bukti bahwa inovasi konservasi dari Luwu Timur mampu menjadi inspirasi di tingkat Asia.
Keberhasilan tersebut sekaligus menegaskan posisi PT Vale sebagai pelopor pertambangan hijau di Indonesia, yang tidak hanya menambang sumber daya alam, tetapi juga menumbuhkan kembali kehidupan di sekitarnya. (*)


























