Berita

Perguruan Tinggi di Sulsel Perkuat Peran Tangani Wasting lewat Jejaring Kampus Peduli Gizi

Tim Redaksi
×

Perguruan Tinggi di Sulsel Perkuat Peran Tangani Wasting lewat Jejaring Kampus Peduli Gizi

Sebarkan artikel ini
Perguruan Tinggi di Sulsel Perkuat Peran Tangani Wasting lewat Jejaring Kampus Peduli Gizi
Perguruan Tinggi di Sulsel Perkuat Peran Tangani Wasting lewat Jejaring Kampus Peduli Gizi (Foto: IST)

MAKASSAR — Indonesian Center of Nutrition Studies (ICONS) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, sebagai Center of Excellence (CoE) Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (Integrated Management of Acute Malnutrition/IMAM), bersama UNICEF Indonesia menginisiasi penguatan peran perguruan tinggi dalam penanganan wasting.

Inisiatif tersebut diwujudkan melalui kegiatan bertajuk “Kampus Peduli Wasting: Peran Perguruan Tinggi dalam Penguatan Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi” yang digelar di Room AB Innovate, Unhas Hotel and Convention, Makassar, Kamis (18/12/2025).

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kegiatan ini dihadiri delapan perguruan tinggi di Sulawesi Selatan, yakni Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Makassar, Universitas Megarezky, Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar, Institut Nani Hasanuddin, UIN Alauddin Makassar, Universitas Muslim Indonesia, dan Universitas Muhammadiyah Parepare.

Setiap institusi mengirimkan lima perwakilan yang terdiri dari pimpinan fakultas, ketua jurusan atau program studi, serta dosen bidang gizi dan kesehatan masyarakat.

Wasting Masih Jadi Tantangan Serius

Wakil Dekan III FKM Unhas, Prof. Anwar Mallongi, SKM., MSc., Ph.D, yang membuka kegiatan tersebut menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung pemerintah memperkuat penanganan wasting melalui pendekatan Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT).

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi wasting di Sulawesi Selatan mencapai 8,0 persen, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 7,4 persen. Kondisi ini meningkatkan risiko kematian balita serta berkontribusi terhadap tingginya prevalensi stunting.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Hariani, SKM, M.Kes, mengungkapkan bahwa Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Takalar menjadi wilayah dengan beban kasus wasting tertinggi.

Faktor penyebabnya antara lain pola pengasuhan, kualitas MPASI, pemantauan pertumbuhan, serta partisipasi masyarakat dalam layanan posyandu.

“Deteksi dini melalui pengukuran LiLA, penguatan kapasitas kader, serta peningkatan mutu layanan dasar menjadi kunci penanganan,” ujarnya.

UNICEF Dorong Pendekatan Terintegrasi

Nutrition Officer UNICEF Indonesia, Julia Suryantan, menegaskan bahwa balita dengan gizi buruk memiliki risiko kematian hampir 12 kali lebih tinggi, serta berpotensi mengalami stunting hingga tiga kali lebih besar jika tidak ditangani secara optimal.

Ia menekankan perlunya penguatan sistem kesehatan yang terintegrasi dengan sistem pangan, sanitasi, air bersih, dan perlindungan sosial, agar layanan gizi berkualitas dapat diakses seluruh balita yang membutuhkan.

Peran Strategis Perguruan Tinggi

Dalam sesi praktik baik, Nurul Muslihah dari Universitas Brawijaya memaparkan integrasi modul pencegahan dan tatalaksana wasting ke dalam kurikulum pendidikan gizi berbasis Outcome Based Education (OBE), mulai dari jenjang sarjana hingga profesi dietisien.

Sementara itu, Prof. Dr. Nurhaedar Jafar, Apt., M.Kes menjelaskan peran ICONS FKM Unhas sebagai pusat unggulan penanganan wasting di Sulawesi Selatan melalui advokasi, pelatihan PGBT, inovasi LiLA Keluarga, PAUD Peduli Wasting, riset berbasis bukti, hingga pendampingan daerah.

Hingga kini, kolaborasi ICONS telah menjangkau tujuh kabupaten/kota yang telah menyiapkan dukungan anggaran untuk intervensi penanganan wasting.

Bentuk Jejaring Kampus Peduli Wasting

Sebagai puncak kegiatan, seluruh peserta menyepakati pembentukan Jejaring Kampus Peduli Wasting, yang ditandai dengan penunjukan focal point dari masing-masing perguruan tinggi.

Jejaring ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi berkelanjutan dalam pengembangan kurikulum, penelitian, pengabdian masyarakat, serta implementasi intervensi gizi berbasis komunitas.

Kegiatan ini menegaskan komitmen ICONS dan UNICEF Indonesia dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan sosial untuk percepatan penurunan wasting dan peningkatan status gizi anak di Sulawesi Selatan. (*)