JENEPONTO — Mahasiswa Posko 24 Praktik Belajar Lapangan (PBL) III Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjalankan program edukasi kesehatan di Desa Bontojai, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto.
Dengan bimbingan Supervisor Lapangan, Laksmi Trisasmita, S.Gz., MKM., para mahasiswa terlibat aktif dalam merespons isu-isu kesehatan mendasar yang dihadapi masyarakat setempat.
Salah satu fokus utama yang diangkat oleh tim Posko 24 adalah edukasi mengenai pentingnya Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri dan ibu hamil.
Edukasi ini dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari sosialisasi di kegiatan posyandu, kunjungan rumah, hingga pemasangan poster di tempat strategis seperti balai desa dan sekolah.
Langkah ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan bahaya anemia dan pentingnya asupan zat besi untuk mendukung kesehatan ibu dan calon generasi bangsa.
Selain itu, mahasiswa juga menyusun dan menyebarkan poster edukatif tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
Informasi ini disajikan secara praktis agar orang tua tidak panik saat menghadapi gejala pasca imunisasi, seperti demam ringan atau bengkak, serta tetap percaya terhadap manfaat imunisasi sebagai langkah pencegahan penyakit menular pada anak.

Isu kesehatan lingkungan juga tak luput dari perhatian. Tim Posko 24 menggagas papan wicara tentang bahaya asap rokok yang ditempatkan di titik keramaian sebagai media pemantik diskusi.
Lewat pendekatan informal, mahasiswa mengajak para pria untuk lebih peduli terhadap dampak merokok bagi anggota keluarga, terutama anak-anak dan ibu hamil.
Dalam rangka memperkuat kapasitas kader posyandu, mahasiswa juga menyusun buku saku stunting.
Buku ini memuat panduan praktis tentang cara memantau tumbuh kembang balita, pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang bergizi, serta strategi pencegahan stunting secara umum.
Upaya ini diharapkan memperkuat peran kader sebagai ujung tombak layanan kesehatan dasar di desa.
Kinerja mahasiswa mendapat apresiasi saat kunjungan dari Satgas Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang diwakili Dr. Muhammad Arsyad, SKM., M.Kes.
Ia menilai mahasiswa Posko 24 mampu beradaptasi dengan baik terhadap dinamika sosial dan budaya masyarakat Desa Bontojai.
Bahkan, tantangan geografis dan akses pangan yang terbatas tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap menjalankan peran edukatif.
“Budaya itu adalah cara hidup masyarakat. Dan mahasiswa kita sudah menunjukkan kemampuan dalam membaca dan menghargai budaya lokal dalam praktik kesehatan masyarakat,” ujar Dr. Arsyad.
Dengan dukungan dari supervisor, semangat mahasiswa, serta kolaborasi bersama warga desa, kehadiran Posko 24 menjadi bukti bahwa edukasi kesehatan bukan hanya tugas akademik, melainkan juga bentuk kontribusi nyata dalam membangun masyarakat yang lebih sehat dan berdaya. (*)


























