Berita

Harga Tiket Umroh Melonjak Drastis, AMPHURI Sulampua Desak Pemerintah Turun Tangan

Tim Redaksi
×

Harga Tiket Umroh Melonjak Drastis, AMPHURI Sulampua Desak Pemerintah Turun Tangan

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR – Ketua  AMPHURI Sulampua, M Azhar, mengungkapkan kenaikan harga tiket pesawat umroh yang mencapai Rp6,5 juta membuat pelaku travel umroh dan calon jemaah terpukul. Kenaikan tersebut dinilai sangat signifikan dan memberatkan masyarakat, khususnya jemaah kelas menengah ke bawah.

Menurut Azhar, pihaknya terkejut dengan lonjakan harga tiket yang sebelumnya berkisar Rp15,5 juta hingga Rp15,8 juta, kini menyentuh angka Rp21,5 juta per orang.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

“Ini angka yang sangat besar. Beban itu akhirnya diberikan kepada pelaku PPIU dan jemaah. Ketika kami sampaikan ke jemaah, tentu banyak yang menolak karena mereka merasa sudah membayar uang muka,” ujar Azhar, Rabu (20/5).

Ia menjelaskan, sehari setelah surat kenaikan harga diterbitkan pihak maskapai pada tanggal 6, AMPHURI langsung mengirimkan surat keberatan pada tanggal 7. Dalam surat tersebut, asosiasi meminta agar deposit (DP) yang sudah dibayarkan oleh travel maupun jemaah tidak dikenakan kenaikan harga baru.

Selain itu, asosiasi juga meminta agar harga tiket tidak melebihi Rp16 juta. Namun, lima hari setelah surat keberatan dikirim, tidak ada respons dari pihak maskapai dan harga tetap diberlakukan.

“Kami akhirnya sepakat menarik DP dan melakukan boikot. Lima asosiasi bergabung, yakni AMPHURI, Kasthuri, Asphirasi, AMPUH, dan Aspuri,” katanya.

Azhar menyebut sebagian besar travel telah menarik deposit dari maskapai dan mengembalikan dana jemaah yang memilih membatalkan keberangkatan karena tidak sanggup menambah biaya umroh.

Di tengah kondisi tersebut, asosiasi kini berupaya mencari alternatif penerbangan lain yang dinilai lebih rasional. Namun, kapasitas kursi penerbangan alternatif masih sangat terbatas dan belum mampu memenuhi kebutuhan jemaah umroh pada musim keberangkatan pasca haji.

“Kami memang menemukan alternatif penerbangan yang lebih terjangkau, termasuk penerbangan transit. Tapi seat-nya sangat terbatas dan tidak bisa mengakomodasi seluruh kebutuhan jemaah,” jelasnya.

Azhar mengakui maskapai direct flight tetap menjadi pilihan utama karena lebih efisien dan minim risiko bagi jemaah. Namun dengan lonjakan harga saat ini, travel tidak memiliki banyak pilihan selain menggunakan penerbangan transit melalui negara lain.

Ia juga menyoroti kenaikan harga avtur, fluktuasi nilai tukar dolar, serta meningkatnya biaya operasional maskapai sebagai faktor penyebab mahalnya tiket pesawat umroh.

Meski demikian, Azhar berharap pemerintah dapat hadir memberikan solusi melalui relaksasi kebijakan dan koordinasi dengan instansi terkait agar biaya umroh tidak semakin membebani masyarakat.

“Kami berharap pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif, bisa turun tangan. Ini bukan hanya bisnis komersial, tetapi layanan ibadah umat,” tegasnya.

Azhar menambahkan, pihaknya bersama asosiasi di tingkat pusat juga terus melakukan komunikasi dengan Kementerian Perhubungan, Kementerian Haji, DPR RI, serta maskapai penerbangan guna mencari jalan keluar atas persoalan tersebut.

“Jangan sampai momentum ini dimanfaatkan untuk menaikkan harga setinggi-tingginya karena menganggap travel umroh sangat bergantung pada mereka. Ini menyangkut kepentingan ibadah masyarakat,” pungkasnya. (*)