Sulawesi Selatan

Sulsel Kembali Juara Nasional IPLM, Literasi dan AI Jadi Fokus Penguatan SDM

Tim Redaksi
×

Sulsel Kembali Juara Nasional IPLM, Literasi dan AI Jadi Fokus Penguatan SDM

Sebarkan artikel ini
Sulsel Pertahankan Peringkat 1 Literasi Nasional, Pemprov Perkuat Transformasi Perpustakaan di Era AI
Webinar ASN Adaptif Seri 60 bertema “Merawat Pustaka Memartabatkan Bangsa” yang digelar Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Sulsel bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusarsip) Sulsel, Kamis (21/5/2026).

MAKASSAR — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus memperkuat transformasi perpustakaan dan budaya literasi di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), seiring keberhasilan Sulsel mempertahankan posisi pertama nasional dalam Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) selama dua tahun berturut-turut.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Webinar ASN Adaptif Seri 60 bertema “Merawat Pustaka Memartabatkan Bangsa” yang digelar Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Sulsel bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusarsip) Sulsel, Kamis (21/5/2026).

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT ke-46 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Hari Buku Nasional 2026, dan Hari Arsip Nasional ke-55.

Webinar menghadirkan Kepala BPSDM Sulsel sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Dispusarsip Sulsel, Muhammad Jufri, Pustakawan Utama Dispusarsip Sulsel Moh Hasan, serta Dosen Psikologi Universitas Negeri Makassar sekaligus pegiat literasi, Asniar Khumas.

Sebanyak 2.595 peserta mengikuti kegiatan tersebut, mulai dari kepala sekolah PAUD hingga SMA/SMK, penggiat perpustakaan, komunitas literasi, hingga aparatur sipil negara (ASN) dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam pemaparannya, Muhammad Jufri mengatakan Webinar ASN Adaptif merupakan program pengembangan kompetensi ASN yang secara konsisten dijalankan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk mendukung visi Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, dan Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi tentang Sulsel Maju dan Berkarakter.

Menurutnya, hingga seri ke-59, program ASN Adaptif telah diikuti ribuan peserta dan menerbitkan lebih dari 132 ribu sertifikat pengembangan kompetensi.

“Konsisten melaksanakan ini karena bagian dari amanah undang-undang bahwa setiap ASN wajib mengembangkan kompetensinya,” ujar Jufri.

Ia menilai penguatan budaya literasi dan transformasi perpustakaan menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia, terutama di tengah perkembangan teknologi digital dan AI yang bergerak sangat cepat.

Sementara itu, Moh Hasan menegaskan bahwa arsip dan literasi merupakan fondasi penting dalam menjaga peradaban bangsa.

“Ada tagline yang saya pegang, ‘Jika tidak ingin kehilangan budaya jaga arsip, jika tidak ingin bermasalah dengan hukum jaga arsip’,” katanya.

Menurut Moh Hasan, perpustakaan saat ini tidak lagi sekadar tempat penyimpanan buku, tetapi telah berkembang menjadi pusat pengetahuan, ruang kreatif, hingga pusat pemberdayaan masyarakat.

Karena itu, transformasi perpustakaan dinilai menjadi kebutuhan agar layanan tetap relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.

Dalam paparannya, ia juga memaparkan capaian Sulawesi Selatan yang berhasil mempertahankan posisi pertama nasional dalam IPLM selama dua tahun terakhir.

Pada 2024, Sulsel mencatat skor IPLM sebesar 88,24, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 86,74 dengan kategori tinggi.

Sebelumnya, Sulsel berada di posisi ketiga nasional pada 2022 sebelum naik menjadi peringkat pertama pada 2023 dan mampu mempertahankannya hingga 2024.

Keberhasilan tersebut ditopang penguatan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), peningkatan koleksi dan tenaga pustakawan, pemerataan perpustakaan sesuai Standar Nasional Perpustakaan (SNP), serta tingginya keterlibatan masyarakat dan komunitas literasi lokal.

Moh Hasan menambahkan, perpustakaan modern harus mampu beradaptasi melalui empat pilar utama, yakni layanan berbasis teknologi, ruang kreatif dan kolaboratif, penguatan kompetensi pustakawan, serta inklusi sosial dan pemberdayaan masyarakat.

“Literasi bukan hanya baca-tulis, tetapi kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan membangun karakter bangsa,” jelasnya.

Pada sesi berikutnya, Asniar Khumas membawakan materi bertema “Gerakan Literasi Kolaboratif untuk Penguatan Budaya Baca (Karya) Masyarakat”.

Ia menyoroti berbagai tantangan generasi muda di era digital, mulai dari rendahnya budaya literasi, budaya instan, pengaruh media sosial, hingga penggunaan teknologi tanpa kontrol.

Menurutnya, masyarakat saat ini hidup di era algoritma ketika media sosial dan AI turut memengaruhi pola pikir dan perilaku manusia.

“Tantangan terbesar hari ini bukan lagi sekadar pintar, tetapi bagaimana tetap waras, kritis, dan sadar di tengah banjir informasi,” ungkap Asniar.

Ia menilai gerakan literasi harus menjadi gerakan kolaboratif yang melibatkan sekolah, mahasiswa, komunitas, media, keluarga, hingga masyarakat luas.

Literasi, kata dia, tidak cukup berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga harus melahirkan karya, gagasan, dan dampak sosial nyata.

Asniar juga mengajak masyarakat membangun budaya deep reading atau membaca mendalam agar tidak hanya memperoleh informasi secara luas, tetapi juga mampu memahami informasi secara kritis dan mendalam.

“Kemampuan membaca mendalam akan menjadi keunggulan penting di era AI,” ujarnya.

Melalui penguatan budaya baca dan transformasi perpustakaan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menargetkan lahirnya sumber daya manusia yang adaptif, berkarakter, dan mampu bersaing di tengah disrupsi digital dan perkembangan kecerdasan buatan. (*)