Berita

Perindo Sulsel Nilai Keberhasilan MBG Harus Terlihat dari Pengentasan Gizi Buruk

Tim Redaksi
×

Perindo Sulsel Nilai Keberhasilan MBG Harus Terlihat dari Pengentasan Gizi Buruk

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR – Ketua DPW Partai Perindo Sulawesi Selatan, Abdul Hayat Gani, menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum dapat dinilai keberhasilannya saat ini karena masih dalam tahap proses pelaksanaan.

Menurutnya, penilaian terhadap program tersebut seharusnya dilakukan dengan pendekatan hasil (outcome), bukan sekadar proses pelaksanaan di lapangan.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

“Kalau saya ditanya soal MBG, sebenarnya belum bisa kita nilai karena masih proses. Saya ingin menilai dengan pendekatan hasil, apakah program ini benar-benar bisa mengentaskan gizi buruk di masyarakat,” kata Abdul Hayat, Senin (9/3).

Ia menegaskan, tujuan utama program MBG adalah meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak. Karena itu salah satu indikator keberhasilannya harus terlihat dari perubahan nyata terhadap kondisi gizi masyarakat.

“Jangan sampai program ini tidak memberi efek. Kalau gizi buruk masih tinggi berarti program ini butuh evaluasi,” ujarnya.

Abdul Hayat menjelaskan, sejauh ini yang dapat dinilai baru sebatas proses pelaksanaan, seperti mekanisme distribusi makanan, pengelolaan program, hingga respons masyarakat terhadap layanan yang diberikan.

Menurutnya, keberhasilan program baru dapat diukur jika terdapat bukti nyata bahwa masyarakat yang sebelumnya mengalami gizi buruk berhasil keluar dari kondisi tersebut setelah menerima manfaat program MBG.

“Kalau ada masyarakat yang sebelumnya gizi buruk lalu setelah mendapatkan MBG menjadi lebih baik, nah itu baru bisa dianggap berhasil,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan secara kelembagaan Partai Perindo tetap mendukung program tersebut karena merupakan bagian dari agenda pembangunan nasional pemerintah.

“Prinsipnya kita mendukung, karena ini bagian dari visi besar pemerintah. Tetapi dalam pelaksanaannya tentu masih ada yang perlu dioptimalkan dan dibenahi,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan agar penyaluran program tepat sasaran dan benar-benar menyasar kelompok masyarakat yang membutuhkan.

“Jangan sampai yang menerima justru anak-anak dari keluarga mampu. Kalau sudah kelebihan gizi lalu masih ditambah lagi, itu sama saja tidak tepat sasaran,” katanya. (*)